My photo
Lhokseumawe, Aceh, Indonesia
Aceh, seperti yang kita ketahui, menyimpan nilai sejarah yang kaya melalui peninggalannya. Tetapi, pada saat ini, banyak masyarakat Aceh telah lupa terhadap hal tersebut,sehingga nilai sejarah Aceh semakin menghilang dan mengakibatkan terhapusnya identitas masyarakat Aceh sendiri. Dengan bekal ilmu yang ada, penulis akan menelusuri jejak peninggalan sejarah Aceh, sehingga pembaca dan masyarakat Aceh mendapatkan berbagai informasi. Semoga blog ini bermanfa'at bagi pembaca-pembaca budiman,Amin. Terima Kasih.

Monday, August 2, 2010

Kerajaan IndraPurwa dan Makam Tgk Cot Diujong

Ujong Pancu dan Peninggalan Sejarah Aceh
Tidak banyak masyarakat sekitar Banda Aceh mengetahui kedudukan desa Ujong Pancu, salah satu desa dalam kecamatan Peukan Bada, Banda Aceh. Hanya pemancing atau nelayan yang kerap mengetahui dimana letak Desa Ujong Pancu tersebut. Bagi saya, Ujong Pancu merupakan desa yang menyimpan banyak rahasia tentang sejarah Aceh dan peninggalannya. Oleh karena itu, saya dan Riadi bertekad menelusuri jejak peninggalan sejarah Aceh yang tersimpan di sekitar Desa Ujong Pancu.
Darussalam, Akhir tahun 2009 tepatnya pukul 7 pagi, Masyarakat Aceh mulai sibuk dengan urusannya masing masing. Sambil memanasi kendaraan, saya melihat para mahasiswa mulai berdatangan ke kampus, sementara warung kopi dengan sajian nasi gurinya sudah siap melayani siapa saja yang singgah. Dengan bekal semangat, kami pun menerjang angin pagi yang dingin menuju Ujong Pancu dan berharap sampai ke desa tersebut sebelum air laut pasang, karena tujuan pertama kami adalah menuju ke sebuah tapak perkuburan lama yang terletak satu kilometer ke arah laut. 20 menit kemudian, kami sampai ke Ujong Pancu dan bergegas untuk menuju ke tapak makam tersebut.
Dipesisir pantai Ujong Pancu, terdapat sebuah tapak makam yang terletak sekitar satu kilometer kearah laut. jika air laut pasang, makam tersebut akan tenggelam dan harus memakai perahu untuk mengunjunginya. Akan tetapi, jika air laut sedang surut, pengunjung bisa berjalan kaki menuju ke makam tersebut, tetapi hanya untuk beberapa jam saja. Karena kami tidak mempunyai biaya untuk menyewa perahu, kami mengambil kesempatan ketika air laut surut, dan berjalan kaki menuju makam tersebut.
Menurut penduduk sekitar Ujong pancu, sebelum Tsunami tahun 2004 makam tersebut dikelilingi oleh perkampungan. Ketika tsunami terjadi, perkampungan tersebut terkena impak yang sangat parah, sehingga terjadi pengikisan yang begitu luas dan yang tertinggal hanyalah makam tersebut. Penduduk setempat juga mengatakan bahwa disekitar makam tersebut, terdapat beberapa tapak peninggalan sejarah, seperti pondasi Mesjid Indrapurwa yang awalnya merupakan sebuah pura Kerajaan Hindu, dan diubah menjadi mesjid ketika masuknya Islam.

Ketika kami sampai dipesisir Ujong pancu, jam telah menunjukan pukul 7.30 pagi. Harapan kami untuk menuju ke makam tersebut begitu tipis, karena beberapa nelayan yang kami jumpai mengatakan tidak lama lagi air akan pasang. Alhasil, setelah mencoba berjalan sekitar 500 meter, air laut mulai pasang dan penelusuran pertama kami pun gagal. Walaupun begitu, semangat kami tidak patah begitu saja. Di lain waktu, kami akan kembali dan menjejaki tapak makam tersebut.










Kami singgah di bawah gedung SD Lampageue untuk menikmati nasi guri yang kami beli di Darussalam. SD Lampageue, yang dibangun dengan biaya 8 milyar tersebut terlihat mewah dan canggih, tetapi kami kecewa ketika mendengar bahwa jumlah semua murid SD tersebut tidak lebih dari 15 orang. Begitu minimnya minat masyarakat tersebut terhadap pendidikan dan kurangnya dukungan terhadap anak untuk mengecap pendidikan demi masa depan mereka. Masyarakat setempat lebih mengutamakan ekonomi daripada pendidikan, sehingga tidaklah heran jika anak-anak tersebut sudah mulai bekerja. Setelah mengisi tenaga secukupnya, kami kemudian menuju ke sebuah tapak peninggalan sejarah penting yang mulai dilupakan masyarakat Aceh.
Kerajaan IndraPurwa
Situs kerajaan IndraPurwa merupakan salah satu peninggalan sejarah Aceh yang penting yang tersimpan di desa Ujong Pancu. Indra Purwa didirikan pada masa kerajaan Hindu dan termasuk salah satu dari 3 Indra dalam trail Aceh lhee sagoe. Trail Aceh Lhee Sagoe merupakan wilayah yang menghubungkan tiga Indra peninggalan zaman Hindu-Budha di Aceh, yang terdiri dari Indra Patra, Indra puri dan Indra Purwa. Tidak banyak orang Aceh mengetahui dimana letak situs Kerajaan tersebut.

Awalnya, kami juga tidak mengetahui dimana letak kerajaan tersebut. Berkat sebuah plakat yang disediakan oleh “yayasan Bustanussalatin”, kami akhirnya mengetahui daerah dimana letak situs kerajaan tersebut. Yayasan Bustanussalatin merupakan salah satu lembaga yang memerhatikan situs peninggalan sejarah Aceh. Lembaga tersebut telah menyediakan penunjuk atau plakat pada setiap situs peninggalan sejarah sehingga para pengunjung mengetahui letak dan latar belakang situs tersebut. Terimakasih untuk Yayasan Bustanussalatin.
Situs kerajaan Indra Purwa terletak di sekitar mesjid Indrapurwa yang dibangun setelah Tsunami. Ketika berada di halaman mesjid, kami tidak melihat bangunan lama yang umumnya berbentuk benteng, kami kemudian menuju ke arah selatan mesjid, hasilnya juga sama.

Setelah 30 menit mengelilingi dan memerhatikan sekitar halaman mesjid, kami istirahat di atas sebuah pondasi tepat di samping mesjid arah selatan. ketika asyik beristirahat, saya memerhatikan pondasi tersebut dan terkejut ketika mengetahui bahwa pondasi tempat kami istirahat adalah tempat dimana Kerajaan IndraPurwa didirikan.

Jika pengunjung tidak memerhatikankan dengan seksama, maka pondasi tersebut tidak terlihat seperti bangunan lama, karena sebagian pondasinya telah di lapisi semen, sehingga bentuk aslinya tidak bisa dilihat dengan jelas. Selain itu, hanya sebagian pondasi bangunan yang masih utuh. Keadaan sekitar tapak kerajaan IndraPurwa begitu memprihatinkan, karena tidak ada perawatan sama sekali. Sungguh disayangkan bila situs sejarah yang begitu penting diabaikan begitu saja, tanpa perawatan dan perhatian dari Masyarakat dan Pemerintah Aceh. Saya berharap pemerintah Aceh memberikan perhatian terhadap kelestarian Tapak Kerajaan IndraPurwa, karena keberadaan situs tersebut dapat membuktikan identitas Kerajaan Aceh baik sebelum atau sesudah masuk Islam.
Setelah menemukan tapak kerajaan Indra Purwa di Mesjid IndraPurwa, kami kemudian menuju kearah selatan, kira-kira 200 meter dari Mesjid. Menurut informasi yang kami dapat dari seorang penduduk, daerah yang akan kami tuju terdapat beberapa batu nisan peninggalan abad 15 dan 16 bahkan jauh sebelumnya. Kawasan tersebut telah ditutupi pohon yang lebat dan rumput yang panjang, sehingga sulit bagi kami untuk menemukan batu nisan. Setelah mencari dengan teliti, akhirnya kami berhasil menemukan beberapa batu nisan, namun sebagian dari batu nisan tersebut telah dimakan usia sehingga bentuknya tidak begitu sempurna.

Selain itu, kami juga menemukan batu nisan yang sudah tertimbun tanah, dan hampir tidak kelihatan bentuknya. Setelah memasuki kawasan tersebut sedalam 100 meter, kami baru menemukan batu nisan yang masih sempurna bentuknya, namun batu nisan tersebut telah tercabut dari tanah. Karena terik matahari yang menyengat kulit, kami kemudian berteduh di bawah pohon tidak jauh dari kawasan perkuburan. Saat kami sampai dibawah pohon yang rindang tersebut, kami tidak menyangka jika kami juga menemukan beberapa batu nisan Aceh yang mempunyai ukiran kalimah Allah. Akan tetapi batu nisan tersebut juga tercabut dari tanah, sehingga kami tidak mengetahui dimana letak yang sebenarnya. Besar kemungkinannya, jika batu nisan tersebut telah tercabut akibat Ombak Tsunami tahun 2004 silam.


Makam Tungku Cot di Ujong
Pukul 12 siang, kami melanjutkan perjalanan menuju arah barat Ujong Pancu, tepatnya ke Makam Tungku Cot di Ujong. Tungku Cot di Ujong kata penduduk setempat, merupakan seorang Ulama terkenal dan makam beliau dipercayai keramat. Ketika kami tanya dimana letak makam Tungku Cot di Ujong, mereka menanyakan apa tujuan kami mengunjungi makam tersebut dan kami pun menjelaskannya panjang lebar. Penduduk setempat mengingatkan agar kami hati hati ketika menuju ke makam Tungku, karena menurut mereka, jika niatnya tidak baik, maka pengunjung akan berjumpa dengan binatang-binatang yang berbahaya, seperti ular, harimau dan bahkan makhluk halus atau tersesat. Dan jika niat mengunjungi makam baik, maka makam Tungku akan mudah di temukan. Awalnya, kami juga merasa takut dan keberatan untuk mengunjungi makam tersebut, tetapi karena mempunyai niat yang baik, akhirnya kami bertekad untuk mengunjungi makam Tungku Cot di Ujong.
Dengan mengendarai sepeda motor, kami meninggalkan mesjid Indra Purwa dan menuju Makam tungku cot di ujong. Melewati jalan aspal yang kecil di tengah perkampungan dan menikmati keindahan laut ujong pancu, membuat perjalanan kami semakin menarik. Setelah 10 menit mengendarai sepeda motor, kami sampai di kaki bukit dan berhenti sejenak untuk melepaskan pandangan kearah pantai. Sungguh indah pemandangan pantai Ujong pancu jika di lihat dari kaki bukit tersebut. Hamparan luas pantai dikelilingi oleh perkampungan Ujong Pancu yang dilindungi oleh gunung. Sementara dari arah timur pantai, kami dapat melihat keindahan gunung Seulawah yang menjulang tinggi, seolah-olah menyentuh angkasa. Dipinggiran kaki bukit, kami lihat beberapa orang sibuk memancing ikan. Pantai Ujong Pancu adalah salah satu tempat utama bagi sebagian masyarakat Aceh besar yang mempunyai hobi memancing.
Setelah melepaskan dahaga, kami langsung melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, kami menemukan jalan buntu dimana banyak sepeda motor milik pemancing parkir berjejeran disamping jalan. Untuk seketika, rasa takut dan was was kami hilang karena tempat tersebut banyak dikunjungi orang.


Tidak jauh dari tempat parkir sepeda motor tersebut, kami menemukan sebuah jalan setapak yang dibuat dari semen. Untuk memastikan jalan setapak tersebut menuju ke makam tersebut, kami bertanya pada orang yang sedang berkebun tidak jauh dari jalan tersebut. Setelah memastikan, akhirnya kami meneruskan perjalanan.

Kami mengikuti jalan setapak tersebut sambil mendengar suara ombak yang menghantam karang. Ternyata, perjalanan menuju ke makam tersebut agak menyeramkan. Penelusuran kami disaksikan oleh dua objek yang bisa membuat bulu kuduk kami berdiri. Dari sisi kiri, hutan yang lumayan lebat membuat kami was-was terhadap binatang buas seperti harimau atau ular. Sementara disisi kanan, kami di intai oleh jurang yang curam. Kami harus extra hati-hati berjalan, karena jalan setapak tersebut agak licin. Akan tetapi, kicauan burung-burung yang berusaha menyapa membuat rasa was-was kami menghilang. Dalam perjalanan tersebut, saya bertanya pada diri sendiri, kira-kira siapa nama ulama yang ada dimakam tersebut dan mengapa beliau di makamkan di tempat yang begitu terpencil?. Rasa ingin tahu saya semakin kuat dan membangkitkan semangat untuk menelusurinya.
Setelah berjalan selama kira-kira 10 menit, akhirnya kami melihat sebuat atap dibalik celah pohon-pohon. Kami langsung mendekati tempat tersebut dan saya begitu terkejut dan terpana ketika melihat sebuah papan yang tertulis “Maqam Syeh Hamzah Al-Fansyuri Al-Farisyi”. Perasaan gembira, penasaran, dan bingung menjadi satu. Seorang ulama yang begitu terkenal di Asia, seorang ulama sufi yang bukunya telah dibedah oleh banyak ilmuan, seorang ulama yang besar namanya, seorang ulama yang pernah hidup dimasa kegemilangan kerajaan Aceh pada abad ke 17. Banyak buku biografi beliau telah saya baca, dan saya baru tahu ternyata beliau beristirahat di tempat yang sunyi nan jauh. Saya begitu senang karena akhirnya saya mengetahui tempat beliau dimakamkan.
Dengan membaca salam kepada ahli kubur, kami langsung masuk ke dalam pekarangan makam. Luas pekarangan makam kira-kira 10X10 meter, lantainya telah disemen dan pekarangan tersebut dipagar dengan kawat. Didalam pekarangan itulah Syeh Hamzah al-Fansuri dimakamkan. Disekeliling makam beliau telah dipasang kelambu berwarna putih, dan ditutupi atap dari genteng. Dengan perasaan was-was, kami menyelinap kedalam kelambu tersebut dan subhanallah, kami melihat sebuah makam yang begitu panjang dan juga diselimuti dengan kain hijau tua. Kami kemudian duduk di samping makam danmenghadiahkan do’a untuk beliau. Setelah berdo’a, saya sendiri berdiam diri sambil mengingat kembali masa kejayaan Aceh pada abad ke 17, masa hidup Syeh Hamzah al-Fansuri. Syeh Hamzah al-Fansuri adalah seorang ulama sufi yang begitu terpengaruh di Aceh pada saat itu. Beliau berasal dari Fansur, (Aceh Singkil sekarang). Beliau menguasai ilmu Islam di negeri para nabi dan menyiarkannya di Aceh. Selain menguasai ilmu dibidang sastra, beliau juga menguasai ilmu tauhid dan mengikuti aliran Ibnu ‘Arabi, yaitu aliran Wahdatul Wujud. Menurut beberapa sumber, aliran wahdatul wujud dianggap sesat pada Abad 17 dimasa pemerintahan Sultan Iskandar Thani, dan mendapat tantangan hebat dari seorang Ulama Aceh yang dikenal dengan nama Syeh Nuruddin ar-raniry, beliau berasal dari Ranir,India. Karena dianggap sesat, banyak kitab-kitab karangan Syeh Hamzah al-Fansuri dibakar (menurut sebuah kisah, kitab-kiab beliau dibakar didepan Mesjid Raya Baiturrahman). Sehingga banyak sumber-sumber ilmu yang beliau syiar hilang dari permukaan bumi Aceh. Hanya beberapa kitab yang selamat dan kini tersimpan di museum diluar negeri, seperti Belanda dan Inggris. Sumber yang lain juga mengatakan bahwa bukan hanya kitab-kitab beliau yang dibakar, tetapi beliau juga dikenakan hukuman mati karena menyebarkan aliran sesat.

Hukuman yang dijatuhkan kepada Syeh Hamzah al-Fansuri, pembakaran kitab dan tentang aliran sesat, adalah sebuah peristiwa yang penuh controversial pada abad ke 17, dan menjadi hal yang penuh tanda hanya pada masa sekarang ini. Begitu banyak ilmuan yang melakukan penelitian tentang kitab sastra karangan beliau serta biografinya. Kitab beliau dipenuhi dengan syair-syair mistik serta Hikayat yang kaya dengan makna, syair-syair sufi yang begitu rumit dipahami. Sehingga tidaklah heran jika beliau dinobatkan sebagai pujangga melayu klasik pertama didunia. Tetapi alangkah sayangnya, banyak masyarakat Aceh, pemuda-pemudi dan pelajar yang tidak tahu atau tidak mau tahu tentang kontribusi beliau untuk Aceh. Bahkan tidak mau tahu dimana beliau dimakamkan. Kepedulian rakyat Aceh kepada hasil karya seorang Aceh telah ditelan bumi. Tidak ketinggalan juga, pemerintah Aceh yang notabenenya peduli kepada sejarah Aceh, belum sepenuhnya membangun dan melestarikan peninggalan-peninggalan sejarah Aceh, termasuk Makam-makam ulama yang pernah mengharumkan nama Aceh dimasa dahulu. Peninggalan-peninggalan sejarah Aceh tersebut adalah bukti bukti kejayaan Aceh dimasa dahulu, dan untuk dijadikan contoh bagi generasi muda sebagai penerus dimasa depan.
Setelah beberapa lama saya duduk disamping makam syeh Hamzah al-Fansuri, saya mulai melihat kesekeliling makam yang diselimuti kelambu tersebut. Terdapat 2 makam tidak jauh dari makam syeh Hamzah al-Fansuri, makam tersebut tidak terlalu panjang. Dimakam terlihat batu Aceh, batu nisan yang dipenuhi ukiran ayat Al-Qur’an dan ukiran bunga. Mungkin makam tersebut adalah makam murid atau keluarga beliau. ke 2 makam itu juga diselimuti kain hijau. Melihat kawan saya Riadi asik dengan pemandangan disekeliling pekarangan makam, saya pun beranjak keluar dari kelambu dan mengambil beberapa gambar sebagai kenang-kenangan. Pekarangan makam terletak di pinggir jurang yang curam. Pekarangan terlihat kurang bersih dan dipenuhi dengan daun daun yang gugur. Sementara diarah hutan, terdapat sebuah balai yang lumayan besar ukurannya. Balai tersebut digunakan sebagai fasilitas beribadah dan beristirahat. Walaupun jalan setapak dan sarana ibadah sudah disediakan, tetapi masih terdapat kekurangan pada pelestariannya.saya mengusulkan pada pemerintah agar memasang papan petunjuk arah menuju makan tersebut. Sehingga pengunjung mudah menelusuri lokasi makam Syeh Hamzah al-Fansuri.
Jika diperhatikan, lokasi Makam Syeh Hamzah al-Fansuri dan makam Syiah Kuala ada keunikan tersendiri. Kepastian lokasi makam Syeh Hamzah al-Fansuri hampir sama dengan makam Syiah Kuala. Makam Syiah Kuala terdapat di dua lokasi, yaitu dikecamatan Kuta Alam dan dikabupaten Singkil. Makam yang terdapat di Aceh Singkil dikenal dengan nama makam Syeh Abdulrauf al-Singkili, dan tidak dijuluki dengan nama Syiah Kuala, sedangkan yang di Kecamatan Kuta Alam dikenal dengan julukan makam Syiah Kuala atau Syeh Abdul Rauf al-Singkili. Sementara itu, Makam Syeh Hamzah al-Fansuri juga terdapat didua lokasi, yaitu di Ujung Pancu, Kecamatan Peukan Bada, dan dikabupaten Singkil. Sedangkan nama kedua makam tersebut adalah sama. Kepastian lokasi makam ulama besar tersebut masih penuh tanda tanya. Menurut pendapat saya, Syeh Hamzah al-Fansuri dimakamkan di Ujung Pancu, karena beliau menghadapi hukuman di Banda Aceh pada Abad ke 17 dan jenazah beliau tidak di bawa pulang ke Fansur, tetapi dimakamkan di Ujong Pancu. Selebihnya kita serahkan pada Allah yang Maha Tahu.
Setelah dua jam, kami meninggalkan lokasi makam syeh Hamzah al-Fansuri dan kembali menghadapi perjalanan setapak. Sewaktu pulang, perjalanan kami terasa lebih cepat dibandingkan ketika pergi. Mungkin karena kami sudah mengetahui arah jalan tersebut dan hilang perasaan was-was membuat kami berjalan cepat.
Panas matahari menyengat kulit ketika kami keluar dari hutan, kepala terasa pening disertai dahaga. Dengan sisa tenaga yang ada, kami meninggalkan Ujong Pancu menuju Darussalam, kami meninggalkan sebuah daerah yang penuh dengan sejarah serta peninggalannya.
Ketika sampai ke Darussalam, kami berhenti disebuah warung dan meluangkan waktu untuk melepaskan dahaga. Sambil menikmati segarnya air kelapa muda, kami merencanakan penelusuran selanjutnya. Penelusuran yang akan mengambil waktu yang lumayan lama dan jauh. Perjalanan kami selanjutnya adalah menelusuri peninggalan sejarah Aceh di Lamno” Sejarah Meuruhom Daya” dan “Mencari jejak Simata Biru” yang berbasis di Lamno, Aceh Jaya.























Sunday, February 7, 2010

BENTENG-BENTENG ACEH 2


BENTENG KUTA LUBOK

Tanggal 9 Januari 2010, tepatnya hari Sabtu pagi kami sudah bersedia untuk mencari benteng disebuah lokasi yang berdekatan dengan benteng Inoeng Balee yang telah kami kunjungi beberapa waktu lalu. Benteng tersebut dikenal dengan nama Kuta Lubok. Dari sumber yang kami dapat, letak benteng tersebut sangat strategis dan laluan untuk menuju ke benteng sangat rumit, bahkan menurut informasi penduduk, disekitar benteng terdapat hewan-hewan berbahaya, seperti ular, kala jengking dan lain-lain. Hal yang menakutkan bukan halangan bagi kami, setelah sarapan pagi kami langsung menuju ke Mesjid Raya, arah yang sama menuju benteng Indrapatra dan Inoeng Balee.

Disepanjang jalan, kami menikmati pemandangan pantai Ujong Batee, sebagian pengunjung yang libur dihari Sabtu mulai berdatangan untuk menikmati indahnya pantai Ujong Batee, tanpa terasa kami pun sudah sampai di Kecamatan Mesjid Raya. Setiba didepan pabrik semen Andalas, tepatnya disebuah toko kami berhenti dan membeli segala keperluan dalam perjalanan. Kami juga bertanya pada pemilik toko tentang letak benteng Kuta Lubok tersebut. Menurut penuturan pemilik toko tersebut, benteng tersebut terletak di pinggiran bukit, pintu masuk ke benteng tidak jauh dari lorong menuju ke benteng Inoeng Balee, sekitar 200 meter arah timur.
Setelah mendapat informasi tersebut,
kami melanjutkan perjalanan. Ketika kami sampai didepan lorong menuju benteng Inoeng Balee, kami berjalan sekitar 200 meter ke arah timur dan berusaha mencari papan petunjuk ke arah benteng, tetapi tidak berhasil sampai kami bertemu dengan seorang tukang kebun dan menanyakan pintu masuk kebenteng. Dengan bantuan tukang kebun tersebut, kami akhirnya menemukan sebuah pintu yang dibuat dari bamboo. Kami langsung masuk dan mengikuti jalan tapak diperbukitan.









Jalan menuju ke benteng Kuta Lubok memang begitu menantang, ketika turun dari perbukitan, kami harus serba hati-hati, karena jalan yang begitu licin dan batu yang runcing. Jalan yang menuju ke benteng hanya bisa dilewati kendaraan roda dua, karena ruas jalan yang relative kecil, sehingga susah untuk dilalui oleh kendaraan roda empat, kecuali untuk landrover atau sejenisnya. Setelah melewati rintangan tersebut, akhirnya kami sampai kebawah dan mengikuti jalan setapak menuju ke benteng.


Dengan mengendarai sepeda motor sekitar 200 meter dari kaki bukit, akhirnya kami melihat sebuah bangunan tua yang berdiri kokoh di pinggir laut. Dari bentuk bangunannya, kami begitu yakin apa yang kami saksikan adalah benteng Kuta Lubok; kubu pertahanan yang telah mulai dilupakan oleh Masyarakat Aceh.


Saya teringat pada sebuah artikel yang menjelaskan tentang bentuk batu nisan pada makam yang terdapat disekitar benteng Kuta Lubok. Ketika itu, mata saya sibuk mencari dimana letak makam tersebut sebelum mendekat ke bangunan benteng. Tidak lama kemudian, sekitar seratus meter kearah selatan benteng, saya melihat beberapa jenis batu yang bentuknya berbeda. Setelah mendekat, akhirnya kami menemukan makam tersebut. Menurut artikel yang pernah saya baca, disekitar makam tersebut terdapat lebih dari 5 jenis batu nisan “plak Pling”. Namun, pada saat itu, kami hanya melihat satu batu nisan “plak pling” dan dua batu nisan yang berbentuk persegi empat. Besar Kemungkinannya makam tersebut terkena impak Tsunami yang terjadi pada tahun 2004.


“plak Pling “ adalah jenis batu nisan yang dibuat pada zaman peralihan Hindu-Islam, menurut para arkeolog batu nisan tersebut digunakan pada makam Ulama atau bangsawan di Aceh.






Batu Nisan yang terdapat dimakam tersebut kebanyakan mempunyai tulisan Arab. Karena dimakan Usia dan impak Tsunami, banyak tulisan pada batu nisan tersebut telah hilang dan tidak jelas lagi. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Suwedi Montana( seorang Arkeolog), Batu nisan jenis Plakpling yang ada di dalam benteng Kuta Lubok lebih tua umurnya dari Nisan Sultan Malikussaleh di Samudra Pasai. Hasil pembacaan yang dilakukan oleh Suwedi Montana terhadap beberapa nisan yang terdapat di dalam Benteng Kuta Lubuk menunjukkan angka tertua adalah 680 H (1211 M) dan pada tulisan tersebut menyebutkan nama “Sultan Sulaiman bin Abdullah bin Al Basyir”, pertanggalan tersebut menunjukkan umur yang lebih tua dibandingkan dengan nisan Sultan Malikussaleh di Samudera Pasai berangka tahun 696 H (1297 M)- yang dikenal sebagai daerah asal mula penyebaran Islam. Dari Hasil penelitian tersebut, dapatlah kita ketahui bahwa Islam telah datang lebih awal ke Lamuri( Banda Aceh).

Keadaan makam pada saat kami kunjungi sangat memprihatinkan, seharusnya pemerintah Aceh mengalokasikan sebagian dananya untuk membangun pagar dan atap disekeliling makam, agar makam tersebut terjaga dan dapat diketahui oleh pengunjung. Setelah kami membersihkan makam sealakadarnya, kami pun menuju ke bangunan benteng yang terletak sekitar 100 meter dari makam tersebut.

Benteng Kuta Lubok terletak tepat di tepi pantai( teluk) Selat Malaka, tempat yang begitu strategis untuk sebuah benteng pertahanan dan juga pusat perdagangan. Menurut sebuah sumber, benteng kuta lubok mempunyai hubungan dengan Kerajaan Cola yang berada di India Selatan( Montana).


Gempa dan Tsunami pada tahun 2004 menyebabkan beberapa bagian benteng runtuh. Dari arah timur, bangunan benteng kelihatan rusak parah dan batu-batu dari bangunan tersebut mulai berjatuhan, sementara sebagian besar atas benteng telah tumbuh pohon-pohon yang bisa merusak bangunan benteng akibat akarnya.

Sisa benteng yang masih kokoh terdiri dari letter L dimana sebagian jejak benteng yang lain nya telah hilang ditelan usia atau hilang akibat ketidakpedulian manusia. Pada bagian tengah, benteng masih kelihatan kokoh, sehingga kami bis
a mengetahui bagaimana bentuk asli bangunan benteng tersebut.


Dari ujung benteng arah Barat, terdapat sebuah bangunan dengan bentuk letter O, diatasnya telah tumbuh pohon yang besar dan akar pohon tersebut telah membuat sebagian bangunan rusak. Menurut pendapat saya, didalam bangunan yang berbentuk letter O tersebut dibangun menara untuk mengawasi perairan selat Malaka dan keluar masuknya kapal dagang yang datang dari berbagai belahan dunia.










Disekitar benteng Kuta lubok, kami juga menemukan potongan-potongan keramik yang berlainan jenis, keramik tersebut banyak dibawa dari Cina pada masa dinasti Ming, India, Arab dan Eropa oleh para pedagang. Pada umumnya, disetiap benteng khususnya yang dibangun ditepi laut, banyak terdapat potongan keramik, itu membuktikan bahwa kawasan tersebut besar kemungkinannya menjadi pusat perdagangan atau salah satu kota pada awal abad 14 Masehi. Menurut salah satu sumber, Kuta Lubok adalah sebuah daerah yang menjadi pusat perdagangan yang tua, daerah tersebut sering disebut dengan nama Lamuri atau Lambari. Maka tidak heran jika di daerah benteng tersebut masih tersimpan benda-benda berharga lainnya seperti, emas, uang, dan material lainnya.



Dari arah laut benteng, kami melihat pemandangan laut Selat Malaka yang indah. Tidak salah jika benteng tersebut dibangun ditempat yang sesuai untuk pusat perdagangan, karena selain pemandangan yang indah, tempat tersebut juga sangat sesuai untuk kapal laut untuk berlabuh.










Setelah 4 jam di benteng Kuta Lubok, kamipun berangkat pulang meninggalkan benteng yang sudah mulai dilupakan sebagian masyarakat Aceh. Saya sangat mengharapkan perhatian Pemerintah Aceh terhadap kelestarian benteng Kuta Lubok, karena benteng tersebut menjadi bukti Kejayaan bangsa Aceh yang berperadaban sejak dahulu.
“ketika kami mengelilingi benteng, kami tidak berjumpa dengan binatang-binatang yang berbahaya, dan bagi saya, ketidakpedulian Bangsa Aceh terhadap benteng tersebut adalah hal yang paling berbahaya daripada berjumpa dengan binatang tersebut"


















Saturday, January 2, 2010

BENTENG-BENTENG ACEH 1

Setelah menyelesaikan studi S1 dibidang sejarah dan kebudayaan di Malaysia selama 5 tahun, saya kembali ke Aceh dimana saya dilahirkan 25 tahun lalu. Selama proses belajar di luar negeri, begitu banyak pengalaman yang saya dapat terutama dibidang sejarah yang begitu saya minati. Salah satu pengalaman yang saya dapat adalah membawa seorang dosen dari fakultas human science, departemen sejarah dan kebudayaan Universitas Antara Bangsa Malaysia. Beliau yang dikenal dengan nama Professor Ataullah Boghdan Kopanski, dosen sejarah peradaban Eropa dan Amerika. Professor Kopanski mengenal saya ketika mengambil beberapa subjek yang dia pelajari. Secara kebetulan, beliau sedang menulis tentang batu dan benteng yang ada di Aceh. Karena itu, beliau mengajak saya untuk mengunjung beberapa situs sejarah yang terdapat di beberapa tempat di Aceh. Dengan senang, saya bersedia menemani beliau mengunjungi Aceh.
Pada bulan April 2008, selama 7 hari kami berkesempatan mengelilingi Aceh dan mengunjungi beberapa situs sejarah penting yang terkait dengan batu dan benteng Aceh. Antaranya situs sejarah yang terdapat di sekitar Aceh Utara, seperti Makam Malikussaleh, Makam Sultanah Nahrashiah di samudra Pasai, Makam Ratu Nurul a’la di Minje Tujoh, Sedangkan di Aceh Pidie, kami mengunjungi Guha Tujoh di Laweung, Makam Tungku di Kandang dan Benteng Kuta Asan. Untuk sekitar Aceh besar dan Banda Aceh, Kami menelusuri situs sejarah seperti Benteng Indrapatra, Benteng IndraPuri, Makam Syiah Kuala, Gunongan/Taman Putroe Pahang, Mesium Aceh, Makam di Ujong Panju.
Setelah menelusuri beberapa situs sejarah tersebut di Aceh Besar, kami kembali ke Medan melalui rute Meulaboh-Medan. Setiba di Meulaboh, kami mengunjungi Pantai Suak ribee. Sebuah pantai yang menghadap Samudra India. Selain itu, kami juga tidak ketinggalan beristirahat di Mesjid Agung yang mempunyai gaya bangunan yang menarik dan unik. Dari meulaboh kami langsung menuju ke medan. Sebelum sampai di Medan, kami juga singgah di tempat rekreasi Air terjun “sipiso-piso’ dan juga Pinggiran danau Toba. Setelah tujuh hari menelusuri situs sejarah di Aceh, kami kembali ke Malaysia dengan membawa pengalaman-pengalaman yang tak terlupakan.
Dari pengalaman tersebut, saya terinspirasi untuk menelusuri kembali jejak-jejak peninggalan sejarah Aceh baik yang sudah atau yang belum saya kunjungi.

BENTENG INDRAPATRA
Akhir tahun 2009, sepulang dari wisuda di Malaysia, saya memulai penelusuran situs sejarah yang pertama, yaitu benteng-benteng yang terdapat di sekitar Aceh besar . Ketika sedang studi, saya banyak membaca tentang benteng-benteng tersebut dan hanya melihat gambar dari beberapa sumber di website. Oleh karena ingin tahu yang kuat, saya mencari informasi dari media internet dan penduduk sekitar Banda Aceh dimana letak situs benteng tersebut. Perjalanan saya turut disertai oleh seorang sahabat yang juga sekuliah ketika di UIA; Riadi Husaini, adalah sarjana muda di bidang komunikasi yang juga meminati berbagai kegiatan yang bersangkutan dengan alam sekitar, termasuk dibidang yang saya telusuri. Setelah mendapat informasi yang akurat tentang letak benteng-benteng disekitar Aceh Besar, kami memulai penelusuran tersebut.
Tanggal 6 Desember 2009, Minggu pagi, kami berangkat dari Darussalam menuju Mesjid Raya. Selama dalam perjalanan, kami tidak lupa menikmati keindahan pantai Ujong Batee. Pantai Ujong Batee adalah salah satu tempat rekreasi pantai yang sudah tidak asing lagi penduduk sekitar Aceh Besar. Setiap hari, terutama hari sabtu dan minggu, pengunjung dari berbagai daerah di Aceh besar menghabiskan waktu bersama keluarga, teman dekat di Ujong Batee. Berteduh dibawah pohon cemara, atau menikmati kelapa muda diwarung-warung yang terdapat disepanjang jalan akan membuat hilang lelah bekerja selama satu minggu.

Setelah 15 menit mengendarai sepeda motor, kami sampai ke sebuah benteng yang terkenal dengan nama Benteng Indra Patra. Untuk masuk ke daerah benteng tersebut, pengunjung akan dipungut biaya sebesar 5 ribu rupiah untuk biaya perawatan, ” katanya”.

Benteng Indrapatra, yang terletak tepat dipinggir pantai sekitar 100 meter dari jalan utama adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Hindu yang menurut salah satu sumber dibangun oleh Putra Raja Harsha sekitar tahun 604 Masehi,(http://bustanussalatin.org).
Benteng Indrapatra juga termasuk salah satu dari 3 benteng dalam trail Aceh lhee sagoe. Trail Aceh Lhee Sagoe merupakan wilayah yang menghubungkan tiga Indra peninggalan zaman Hindu-Budha di Aceh (http://bustanussalatin.org). Jika dihubungkan tiga Indra antara satu sama lainnya, yaitu Indrapatra, Indrapuri dan Indrapurwa, maka akan berbentuk segi tiga. Dalam trail Aceh Lhee Sagoe tersebut, terdapat beberapa titik sejarah Aceh yang penting, seperti yang tertera dalam gambar.

Indrapatra mempunyai bangunan yang begitu strategis, yaitu dengan menghadap Selat Malaka. Karena letak yang begitu strategis, para penyerang dari laut akan bersusah payah untuk menakluki daerah tersebut. Benteng Indrapatra juga mempunyai bentuk segi empat, dan terdiri dari 4 bangunan. Dua dari bangunan benteng telah hancur dan hanya meninggalkan fondasi, selain disebabkan oleh usia yang telah lama, benteng tersebut juga rusak akibat bencana Tsunami yang terjadi lima tahun yang silam.
Selama lebih kurang 2 jam, kami mengamati keadaan benteng tersebut. Dua benteng yang masih berdiri kokoh terlihat mendapat perawatan, namun masih belum maksimal. Dari dalam, benteng terlihat kotor dan tidak terawat. Tidak cukupkah biaya sebanyak 5 ribu rupiah yang dipungut dari pengunjung untuk merawat benteng tersebut. Tidak adakah inisiatif pemerintah Aceh untuk melestarikan benteng tersebut?. Sangat disayangkan jika benteng peninggalan purbakala tersebut tidak dirawat dan akan membuat benteng tersebut runtuh dan hilang, sehingga benteng indrapatra akan hanya meninggalkan nama.


BENTENG ISKANDAR MUDA
Kami melanjutkan perjalanan menuju Krueng raya setelah puas mengamati benteng Indrapatra. Tidak lama kemudian, sekitar 15 menit dari benteng Indrapatra, kami singgah di sebuah benteng yang dikenal dengan nama Benteng Iskandar Muda. Pada awalnya, kami tidak mengetahui dimana letak benteng tersebut, hanya mengetahui namanya saja. Berdasarkan informasi dari penduduk sekitar, kami berhasil menemui benteng tersebut dengan mudah, karena letaknya yang begitu fisible dan dapat dilihat jelas dari jalan utama. Kami heran kenapa tidak ada sebarang papan nama (sign board) di pinggir jalan yang menjelaskan kedudukan benteng Iskandarmuda.
Benteng Iskandar muda adalah salah satu titik sejarah yang termasuk dalam trail Aceh Lhee Sagoe. Benteng Iskandar Muda dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada Abad 16 untuk melindungi wilayah kekuasaannya dari serangan Belanda dan Portugis. Benteng tersebut terletak di daerah Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya, sekitar 50 Meter dari Jalan utama arah laut Selat Malaka. Benteng yang dibangun di pinggir sungai “Krueng Raya” mempunyai bentuk persegi empat, bentuk yang hampir serupa dengan benteng Indrapatra. Tetapi hanya mempunyai sebuah bangunan saja.
Dari hasil kunjungan yang kami lakukan, terlihat beberapa perbaikan yang telah dilakukan oleh Pemerintah Aceh. Selain bangunan benteng yang sebagiannya runtuh akibat terjangan Tsunami tahun 2004, Pagar disekeliling benteng juga telah dibangun. Namun sampai saat ini, Benteng tersebut masih belum maksimal pelestariannya. Ketika kami masuk ke daerah benteng, kami melihat pemandangan yang sama seperti benteng Indrapatara; kotor,dan tidak ada perawatan yang dilakukan. Selain itu, tidak ada penjaga benteng yang kami jumpai selama kami mengamati sekitar benteng Iskandar Muda.

Seandainya Sultan Iskandar Muda yang kita agung-agungkan “hidup kembali”, maka beliau akan begitu marah menyaksikan Benteng yang dia banAdd Imagegun tidak dirawat dan dilestarikan oleh Masyarakat Aceh, terutama Pemerintah Aceh. Apalah artinya, jika yang kita lihat adalah hanya sebuah bangunan yang terdiri dari susunan batu-batuan yang berbentuk segi empat. Tetapi, bangunan tersebut sangat besar artinya bagi Bumi Aceh Darussalam sejak abad 15 dahulu, ketika Penjajah-penjajah kafir dari Eropa datang menyerang daerah Aceh yang kaya dengan sumber daya alamnya. Benteng-benteng tersebutlah yang mempunyai jasa yang tidak semestinya diabaikan, Benteng-benteng yang berdiri kokoh mempertahankan wilayah Aceh dari wabah kolonisasi Barat.

BENTENG INOENG BALEE
Setelah melihat dan mengamati keadaan benteng Iskandar Muda, Kami berangkat ke sebuah benteng yang dibangun oleh para janda-janda yang suaminya shahid dimedan perang melawan kafir. Benteng tersebut dinamakan Benteng Inoeng Balee, menurut penuturan masyarakat, terletak di tempat yang begitu strategis dan menarik.
Melewati kota kecil Krueng raya, mengingatkan saya pada kampung halaman, dimana para pemuda asyik menghabiskan waktu di warung-warung, sudah menjadi kebiasaan bagi pemuda-pemuda Aceh yang menetap dikampung, mereka akan bekerja sehari dan libur seminggu. Akan tetapi, jika pemuda-pemuda Aceh merantau ke luar daerah, maka mereka akan berusaha untuk mencari kerja dan berkarir.
Tidak lama kemudian, kami melewati sebuah Pabrik semen milik Pabrik Semen Padang. Pabrik tersebut adalah sebuah cabang dari pabrik semen padang yang berpusat di Sumatra Barat. Seketika, saya berhenti dan menyaksikan pabrik sambil merenungkan pepatah orang tua ” Buya duek teudoeng-doeng, buya tamoeng meuraseuki”. Mungkin pepatah tersebut tidak begitu bermakna bagi sebagian masyarakat, tetapi pepatah tersebut akan terlihat dampaknya ketika banyak pendatang dari luar Aceh mengendarai mobil mewah dan rumah besar. Sementara masyarakat Aceh tinggal di gubuk yang akan runtuh jika diterpa angin laut.
Seharusnya, Pemerintah Aceh menghimbau kepada masyarakat untuk memakai produk-produk Aceh sendiri, dalam hal ini seperti semen Andalas yang terletak di Lhoknga, Aceh Besar. Dengan memakai produk Aceh, maka ekonomi Aceh akan berangsur pulih.
Perjalanan ke benteng Inoeng Balee kami teruskan sesudah melihat pabrik semen padang. Salah satu daya tarik yang dapat kita lihat ketika menuju ke benteng Inoeng Balee adalah pemandangan dari atas bukit. Dari jalan utama yang menaiki perbukitan, kita bisa melihat pemandangan dari atas, seperti pabrik semen Padang, Kota kecil Krueng Raya dan perahu-perahu yang sibuk memburu ikan di selat Malaka. Tempat tersebut ternyata tidak kalah dengan keindahan panorama sabang dan sangat cocok untuk melepaskan lelah bagi yang bepergian jauh. Kami tidak lupa mengambil kesempatan untuk beristirahat sambil menyaksikan panorama alam tersebut.
Kami melanjutkan perjalanan ke benteng inoeng balee setelah melepaskan dahaga dan lelah. Sebelumnya kami sempat menanyakan pada penduduk setempat tentang letak benteng tersebut, dan ternyata lorong masuk ke benteng hanya 100 meter lagi dari tempat kami istirahat. Dengan semangat, kami langsung menuju ke arah tersebut.
Ketika tiba di lorong menuju benteng, kami berusaha mencari papan nama( sign board) yang menandakan letak benteng Inoeng balee. Setelah 15 menit mencari , kami berhasil menemukannya, akan tetapi papan tanda tersebut terhalang oleh pohon-pohon yang terdapat dipinggir jalan, selain itu tulisan pada papan tanda tersebut hampir tidak bisa dibaca lagi. Jika pengunjung tidak menemukan papan tanda atau tidak mencari informasi dari penduduk setempat, maka akan begitu susah untuk mengetahui letak benteng inoeng balee.
Lorong yang mengarahkan ke Inoeng Balee tidak begitu besar, sedangkan badan jalan tidak di aspal, sehingga kami mengendarai sepeda motor dengan penuh hati-hati karena batu-batu yang runcing. Sekitar 100 meter memasuki lorong, kami menemui beberapa arah yang menuju ke tempat yang berbeda, seketika kami kebingungan, mana arah yang menuju ke benteng. Inisiatif yang kami ambil adalah mengikuti arah yang terdapat banyak tapak kendaraan. Jalan yang mengarahkan ke benteng Inoeng Balee tidak pernah dibuat, sehingga pengunjung terpaksa menghadapi jalan yang berbatu dan lumpur. Selain itu, sepanjang
jalan tidak terdapat papan tanda yang mengarahkan ke benteng, sehingga seringkali pengunjung tersesat jalan karena begitu banyak jalan setapak yang mengarahkan ke berbagai tempat. Alhasil, pemerintah Aceh sangat antusias untuk mempromosikan parawisata, tetapi jalan menuju tempat tersebut saja tidak pernah dibuat selayaknya. Perjalanan dari jalan utama ke benteng sekitar 300 meter dan mengambil waktu 15 menit karena jalan yang rusak parah.







Begitu sampai ke daerah benteng, kami disambut oleh pemandangan laut yang indah disebalik pohon-pohon rindang, serta terpaan angin laut yang membuat dahaga kami hilang. Akan tetapi, tidak ada tanda-tanda objek benteng yang ingin kami lihat, kecuali Notice board/papan pemberitahun yang di sediakan oleh pemerintah Aceh, itupun sudah hilang sebagian tulisannya.


Setelah mendekat kearah pohon yang tumbuh tepat dipinggir tebing, kami baru bisa melihat objek yang selama ini kami lihat digambar atau di website. Objek itu adalah benteng Inoeng balee; benteng pertahanan dan pengawasan laut selat malaka yang terletak di atas bukit.




Sambil melepaskan dahaga, kami melihat sebuah plakat atau tanda yang ditulis;
“Kuta Inong Bal’ee nyang geupeug’et le’ sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayyidil Mukammil( 1589-1604) nyoe geungui sibagoe pusat peurtahanan wilayah pantee seulat malaka. Kuta nyoe dipeuguna seubagai aseurama Laseuka Inong Baleen yang linto-linto gobnyan syahid lam mideuen prang”.

Dari tulisan tersebut, jelas bahwa benteng tersebut mempunyai jasa yang luar biasa. Selain itu, benteng tersebut juga salah satu benteng peninggalan abad 16 yang dibangun oleh sultan demi ketahanan wilayah Aceh dari serangan luar, terutama diperarian selat Malaka. Kuta atau benteng tersebut juga digunakan sebagai asrama bagi para Inoeng Balee( janda-janda) Aceh yang suaminya Syahid di medan perang. Di asrama tersebut mereka diberi pengetahuan agama dan berbagai ilmu pengetahuan termasuk ilmu peperangan.
Benteng yang sebagiannya terdiri dari asrama tersebut dapat dibuktikan dengan potongan-potongan berbagai jenis keramik di sekitar benteng. Ketika kami mengelilingi benteng, kami banyak menemukan potongan keramik yang terbuat dari berbagai bahan. Merujuk pada buku dan informasi yang saya dapat, keramik-keramik tersebut sebagian besarnya di bawa dari berbagai Negara, seperti Cina (Dinasti Ming), India dan Eropa pada abad ke 16 ketika puncak kejayaan Aceh Darussalam. Perdagangan keramik di Aceh sebenarnya sudah terjadi jauh sebelumnya, yaitu pada awal abad 10, hanya bahan-bahan yang dibuat kemungkinan tidak bertahan lama karena keterbatasan tehnologi. Dari potongan keramik tersebut, dapat disimpulkan bahwa para Inoeng balee tersebut menghabiskan waktunya di asrama, selain menimba ilmu, mereka juga memasak dan berkebun.


Setelah dahaga pulih, kami memulai mengikuti tapak benteng Inoeng balee, Arah pertama yang kami mulai adalah dari arah timur benteng yang terlihat masih kokok, tidak jauh setelahnya, keadaan benteng mulai berubah bentuknya. Pohon-pohon yang tumbuh telah memperlihatkan efek yang sangat buruk bagi benteng. Akar pohon tersebut telah masuk ke dalam fondasi benteng, sehingga sebagian fondasi benteng runtuh. Setelah 10 menit kami jejaki, kami kehilangan tapak benteng karena terputus. Pada awalnya, kami berpendapat bahwa tapak yang putus tersebut adalah akhir benteng. Akan tetapi, karena benteng inoeng balee tidak mendapatkan perawatan yang maksimal, dimana pohon-pohon telah tumbuh, sehingga sebagian besar bangunan benteng telah tertutup dan tidak terlihat dengan jelas dari arah barat, di sebalik rimbun pohon pohon yang tumbuh lebat, terdapat sambungan benteng yang begitu luas. Dengan perasaan ingin tahu yang kuat, kami langsung mengikuti tapak tersebut sampai menemukan akhir bangunan benteng tersebut. Bentuk benteng tidak begitu sempurna lagi, karena dimakan usia dan kurangnya perawatan, namun masih bisa dilalui, tetapi harus dengan hati-hati. Banyak potongan keramik yang kami temukan ketika menjejaki tapak benteng tersebut.
Setelah berhasil menjejaki tapak benteng sampai pada titik terakhir, kami menyimpulkan bahwa benteng Inoeng Balee berperan penting dalam sejarah Aceh, seperti pertahanan perarian selat Malaka, Asrama para Inoeng Balee dan juga pusat militer. Benteng tersebut kononnya dibangun oleh para inoeng-inoeng balee dibawah pengawasan seorang wanita Aceh yang begitu terkenal dan dikagumi, dia adalah Laksamana Malahayati, beliau menjabat sebagai panglima angkatan laut kepala dinas rahasia kerajaan dan protokol istana dibawah sultan Alauddin Ri’ayat Syah Sayyidil Mukammil (1589-1604),(rujuk pada”Makam Laksamana Malahayati” untuk informasinya).
Benteng Inoeng Balee, benteng yang telah banyak dilupakan masyarakat, perawatan dan pelestarian yang begitu minimal akan mengakibatkan kerusakan pada benteng tersebut. Jika kita tidak merawat dan memperhatikan peninggalan sejarah tersebut, maka benteng Inoeng Balee akan lenyap dan hilang. Kita boleh berbangga terhadap perjuangan orang Aceh dahulu, tetapi untuk apa jika peninggalannya saja tidak kita perhatikan. Saya berharap pada pemerintah Aceh untuk mengambil inisiatif untuk merawat dan melestarikan benteng tersebut, agar masyarakat Aceh bisa mengunjungi dan menghayati bagaimana perjuangan orang-orang Aceh dimasa dulu.
Setelah 3 jam mengamati keadaan benteng dan menikmati panorama laut yang indah, kami meninggalkan benteng Inoeng balee menuju kota Banda Aceh. Perjalanan kami masih panjang, karena masih ada beberapa benteng lagi yang harus kami telusuri.






(BERSAMBUNG...)